A

Telah kau abai baris-baris,
bercak tinta beserta ceritanya.
Jujur yang gugur ditepis,
dikisah oleh di tiap kelana.
Bibirku sendiri,
berdesis di antara batas berita kota dan rahasia-rahasia.

Saat aku temui kau kala puncak terik.
Mata kita berpendar menjadi labirin-labirin.
Kita mencuri pandang di setiap lirik.
Sambil bertaruh kain siapa yang duluan habis terpilin.

Kita tersesat menjadi simpang penuh cabang.
Senyum khas penyamun saling terlempar, seakan itu pisau terakhir malam ini.
Untuk setiap salah tanpa kalah di tiap pembunuhan,
aku mencintaimu dengan menjadi asing.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply