Akumulasi.

Dini hari, jam 3 pagi.
Saat dimana semua ingin dan tak mungkin teraduk sempurna.
Cita dan cinta pun sekenanya datang lalu menyadarkan dengan memori dari kecewa yang terakumulasi hingga sore kemarin.

Sementara di tempat lain, kau mulai dibenci bukan karena salahmu.
Kau masuk dalam sebuah kotak penghakiman.
Tanpa suaramu yang didengarkan, sepihak saja sudah bisa menjadikan kau bulan-bulanan.

Ingin sekali bait ini berisi klise patah hati seperti ratusan puisi lain.
Namun tak usahlah, kau bahkan tak pernah mendapatkan atensi di dunia nyata.
Apalagi adiksi yang disebut-sebut cinta.
Puisimu tak ada harga jika kau tak kaya, mempesona, atau punya kuasa.

Metafora penolakan sehalus isyarat.
Memuntahkan ampas-ampas rayu dari potongan harap yang kadung tertelan, keluar menjadi bentuk realita dan ingin yang berceceran seperti yang selama ini ada nyatanya.

Kau berteriak di malam hari.
Merengek untuk atensi yang nyatanya kau tunggui.
Yang terjadi hanyalah apresiasi simbolik, lalu pergi tanpa ada yang benar-benar ingin menemani.

Salahkan jelata mencinta?
Salahkan si buruk rupa mendamba?
Salahkan pemalu ini ditanya?

Jelas sudah mengapa aku terbiasa melewatkan orang-orang begitu saja.
Tanpa suara, hanya sepatah kata ketika ada sapa yang sekenanya.
Karena aku tahu aku tak akan dapat apa-apa.

Dini hari, jam 3 pagi.
Kau mati lagi.
Dan kecewamu yang terakumulasi ketika kau hidup kembali.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply