Antara Warganet, Nadin Amizah dan Idola Pop Lainnya

Aku sempat kebingungan untuk menentukan judul awalnya. Entah ingin menyebut ihwal yang ramai beberapa saat yang lalu di Twitter ini sebagai apa. Persoalan tentang Nadin Amizah ini bercampur mulai dari permasalahan sebagai individu, sebagai seniman dan figur publik, dari para fanatis dan juga warganet yang awalnya hanya sekadar guyon namun berakhir pada kerusuhan dengan edukasi ndakik-ndakik ala platform yang terkenal sebagai penghasil beragam pakar. Rentetan peristiwa ini tentu saja berhasil menaikkan nama Nadin Amizah sebagai trending pertama di lini masa Twitter Indonesia.

Tanpa perlu panjang lebar menjelaskan siapa sebenarnya Nadin Amizah ini, nama Nadin sendiri sebenarnya sudah cukup ramai bersliweran di jagat maya. Jejak karya (istilahku sendiri untuk menyebut discography) yang terbilang cukup bagus dan rapi jelas melejitkan namanya sebagai salah satu musisi populer di Indonesia. Terlebih lagi branding di media sosial yang sangat rapi dan “terurus” dengan baik membuat banyak fans yang cukup setia menyimak karya hingga unggahannya di media sosial.

Hal ini seakan-akan runtuh dalam seminggu dengan rentetan blunder dari lini masa Twitter. Dimulai dari unggahan seseorang tentang aksi panggung dari Nadin hingga isu kesehatan mental yang membuat Nadin sukses “dirujak” habis oleh khalayak Twitter. Meski begitu, menurut pengamatanku rentetan blunder ini tidak serta merta merupakan kesalahan seorang Nadin Amizah (meskipun Nadin mengambil porsi cukup besar dalam “kematiannya” sendiri).

Aksi Basi Panggung Pretensi

Rentetan “penyerangan” kepada Nadin berawal dari ramainya video Nadin di Twitter yang melakukan pertunjukan semacam pembacaan puisi saat berada di panggung. Nadin kemudian melakukan konfirmasi bahwa hal ini memang sudah rutin dilakukan sebagai pembuka penampilannya di atas panggung. Lantas warganet yang sangat humoris ini menyamakan aksi Nadin dengan Pendeta di acara rohani yang dahulu setiap hari minggu ditayangkan oleh salah satu kanal televisi swasta.

Awalnya hal ini cukup lucu dan menghibur. Namun informasi akan memunculkan distorsi saat sebuah pesan berentet dari satu orang ke satu orang yang lain. Mulailah candaan-candaan mahalucu tadi bergeser menjadi penghakiman dan perundungan kepada Nadin yang “berinovasi” pada aksi panggung. I mean, masa masih betah sih lihat penampil yang membuka acara secara template? Untuk hal ini aku sendiri salut kepada Nadin yang memulai. Tapi entah untuk warganet Twitter (yang mungkin memiliki banyak referensi dan sudah pakar) mengaminkan bahwa aksi panggung memang harus dibuka dengan sapaan yang template hanya karena membuka panggung dengan puisi dianggap melawan batas kewajaran yang selama ini berlaku dari panggung ke panggung.

Kesehatan Mental

Kejadian berikutnya yang membuat nama Nadin Amizah begitu melambung di jagat twitter adalah postingannya yang berupa rangkaian foto diri dengan tulisan “your girlfriend, your mentally unstable girlfriend”. Isu kesehatan mental yang belakangan sangat ramai digaungkan tidak hanya Twitter namun seluruh jagat maya, menjadikannya isu yang kini cukup “sensitif”. Terlebih beberapa kali blunder oleh beberapa figur publik bahkan brand yang menjadikannya sebagai komoditas yang cukup menguntungkan.

Tidak menampik bahwa isu kesehatan mental yang menjadi komoditas pun karena memang ada pasarnya. Tren remaja yang melakukan self diagnose hanya bermodalkan ciri-ciri yang terpampang di internet tanpa pendampingan dari profesional (psikolog dan psikiater) membuat karya yang menggaet isu-isu kesehatan mental jadi laris manis. Namun warganet sepertinya lupa bahwa glorifikasi isu kesehatan mental yang dimiliki oleh seorang seniman bukan lagi barang baru dan masih berlangsung hingga sekarang. Fakta bahwa idola-idola dari Amerika juga tidak jarang melakukan pengakuan hingga glorifikasi terhadap kesedihan dan terkadang menyerempet pada isu kesehatan mental (tidak jarang pula secara tidak langsung menjualnya).

Lantas bagaimana dengan kasus unggahan Nadin Amizah? Sayangnya, cara Nadin tidak cukup smooth untuk -setidaknya- meromantisasi isu yang dimilikinya, terlepas dari benar atau tidak. Hal ini berujung pada serangan-serang baik yang dilakukan secara gamblang hingga guyonan-guyonan yang berujung pada perundungan kepada Nadin. Tidak ketinggalan pula hadir beberapa “pakar” yang merasa keberatan dengan Nadin yang speak up tentang kondisi mentalnya (sekali lagi, terlepas dari benar atau tidak) ke ranah publik dan menuduh bahwa Nadin Amizah hanya meromantisasinya.

Aku tidak akan berkomentar banyak tentang romantisasi isu kesehatan mental. Namun Nadin Amizah sepertinya harus lebih banyak belajar bagaimana menyuguhkan isu yang cukup sensitif ke khalayak ramai beserta tanggung jawabnya pada sebuah kampanye di media sosial. Seleb medsos lain saja bisa berkali-kali sukses kok. Lagi pula, bukankan dengan semakin banyaknya pengikut di akun media sosial maka semakin besar pula “tanggung jawab” untuk menghadapi tingkah dan selera dari para pengikut yang mengangap idola adalah sosok tanpa cacat yang harus selalu menuruti kemauan dirinya?

Fana Fanatis

Sedikit ditulis pada part sebelumnya, mungkin para penggemar lupa bahwa idola juga manusia biasa yang memiliki hak seperti manusia pada umumnya. Sesederhana ruang-ruang privasi. Dalam kasus Nadin Amizah contohnya, membagikan tempat-tempat “thrifting” bukanlah sebuah keharusan bahwa seorang idola harus membagikan segala yang dia punya. Tidak usahlah membandingkan dengan Bella Hadid yang mungkin secara sukarela membagikan referensi baju yang dikenakannya. Mungkin Bella Hadid memang concern untuk membagikan sumber koleksinya, dan Nadin memilih untuk tidak. Sama halnya dengan manusia lain yang memilih untuk tidak menjawab beberapa hal dalam hidupnya saat ditanyakan oleh orang lain. Namun apalah opini aku ini dibandingkan dengan kekuatan circle RT di ranah twitter.

Dalam lingkup yang lebih luas dan sering dijumpai, ranah privasi seorang idola seling kali terganggu seperti penggemar yang tiba-tiba nyelonong masuk backstage, memaksa berfoto setelah manggung (man, dikira manggung ga capek apa?), misuh terhadap pilihan politik atau yang paling ekstrim: stalking sampai ke ranah pribadi sang idola (rumah, tongkrongan, dsb). Hal ini tidak jarang terjadi hanya karena perasaan ingin terlihat lebih ngefans diantara penggemar yang lain dan diikuti oleh ketidaktahuan bahwa idola memiliki sekat antara kehidupan di atas panggung dan kehidupan pribadi. Just let them enjoy their life!

Hal lain yang sempat ramai setelah serangan terhadap Nadin Amizah berkurang bergeser pada penggemarnya sendiri. Perundungan tiada henti dilontarkan pada penggemar Nadin yang kerap meniru gaya puitis dari Nadin Amizah. Hal ini tentu saja merupakan ekspresi kekaguman terhadap sang idola yang dinilai cocok untuk dijadikan panutan oleh penggemarnya sendiri. Tidak ada yang salah dari fase meniru idola dalam hidup. Sebut saja rambut poni lempar yang marak saat popularitas Alesana melejit atau berbondong-bondong memborong merk seperti Affends, Macbeth dan Volcom di era pop-punk ala Rocket Rockers atau Pee Wee Gaskins.

Simpulan

Sebagai idola populer (terlebih yang memiliki penggemar yang banyak di media sosial) berinteraksi dan mengunggah kehidupan luar panggung sepatutnya ikut diperhatikan. Konsekuensi dari mengunggah sesuatu di jagat maya (khususnya Twitter) sudah bukan lagi sekedar tempat bersenang-senang dan membangun interaksi dengan penggemar. Tidak ingin mendikte sebenarnya (lagi pula tidak yakin tulisan ini akan dibaca “artis”) namun setiap tindakan akan ada konsekuensi bahkan untuk hal-hal yang baik nan wholesome. Tidak menampik pula bagi beberapa orang menjadi troll di internet bisa jadi suatu hal yang menyenangkan dan menghibur. Bahkan kini sudah tidak jarang beberapa akun di kolom replies menyesal karena tidak bisa mengikuti keributan. Sedikit menyeramkan kini FOMO (Fear of Missing Out) sudah berubah menjadi Fear of Missing to Persecute.

Bagi penggemar sendiri, belajar untuk memahami bahwa seorang idola juga manusia biasa. Selain soal ketidaksempurnaan, batas-batas antara kehidupan di atas panggung dengan kehidupan di luar panggung bisa jadi jauh berbeda. Beberapa artis bahkan sempat menyuarakan ketidaknyamanannya terhadap penggemar yang tidak paham bahwa kehidupan di atas panggung atau di depan kamera tidak secara keseluruhan dicaplok dari sosok asli sang idola.  It’s scripted! Jangan kaget lah kalau-kalau kelak sang idola menunjukkan segala sisi kemanusiannya dan menjadi tiada beda dari mas-mas atau mbak-mbak yang kau jumpai saat makan nasi uduk di pagi hari.

Referensi:

Kill Your Idols

STREAM OF THOUGHTS #7: NADIN AMIZAH & MENTAL KEROYOKAN TWITTER

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply