Awan Hitam dari Nona

Andai kau tahu, Nona, awan hitam kotamu selalu buruk bagi desa. Polusi asamnya buruk bagi padi kami, rindu dan asanya buruk bagi hati kami.

Belakangan aku yakin rintik malu-malu beberapa hari ini wujud linang matamu yang berevaporasi. Aku membayangkan kau duduk dekat jendela kamarmu dan secara tidak sengaja membisik syair rindu menuju langit kotamu, namun tetap saja secara sembrono keluar dari mulutmu yang kadung menahannya entah berapa lama. Lebih buruknya, angin selalu mengantarkan pada aku yang paling rindu.

Aku masih menunggu suratmu, atau setidaknya kabarilah aku lewat gawaimu. Aku tidak ingin kurang ajar mengganggu lelaki rupawan yang aku yakin masih bersemayam tenang dalam dadamu.

Kabarilah aku. Dalam diam yang asing ini aku mencintaimu. Aku menunggu kita.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply