Bapuk_02

untitled-2

 

Laman ini hanya bertujuan untuk memperbaiki kesalahan pengetikan yang ada pada projek Bapuk_02.

Untuk malihat Bapuk_02 dan karya teman-teman lain secara lengkap dapat dilihat pada tautan ini.

 

 

Amare

Perjanjian yang tidak pernah mencapai kata sepakat itu
Berakhir pada dua hal:
Aku tidak bisa menawar isi kepalamu
Untuk kau bisa menerima seutuhnya aku
Sungguh bagaimana kita telah saling memaksa satu sama lain untuk bertukar tipuan
Aku mengoyak kita
Diantara deretan angka materai, aku mengingat matamu

 

 

 

Faber

Untuk Matahari yang telat bangun pagi
Dan Rembulan yang tidak tidur kelaparan
Tetaplah terseok diantara rutinitas dan tirani
Meratapi nota penuh angka
Bertahan dari kejenuhan dijadikan objek utama puisi cinta
Atau jembatan kausa kejadian semesta

Untuk Angkasa yang tidak bisa berhenti merokok
Gerutumu gemuruh pada khayal, meledak raung pada hakikat
Sebab kepak-kepak telah tumbuh dan menjauhi kepulan banal
Pergi dengan raut paling sumringah
Hingga kemudian ditemui mati berkafan nota cicilan

Untuk Tanah Kubur yang disiram minuman berenergi
Berbahagialah karena batu nisan telah menjadi gedung-gedung angkuh
Menghunus gunung menjulang lenggak
Untuk kemudian membiayai subsidi minuman berenergi lain untuk tetangga kalian dan Tanah Kubur yang lain

Kepada Matahari, Rembulan, Angkasa dan Tanah Kubur
Teruslah mengeluh di linimasa
Mari berdoa agar keluh segera menjadi lenguh
Agar bisa menghabiskan tanggal muda
Di hotel melati pinggir kota

 

 

 

Occlusio

Untuk segera kita berbondong-bondong membangun gemuruh
Hubungan sepakat pembangun siasat, menyusun pemeo
Mengikat benang di masing-masing jari pertanda saling paham
Berlatihlah, agar kelak diterima karena terlatih untuk membeo

Tepatilah janji pada setiap kita agar tidak saling bunuh
Agar bersama kemudian menertawai jasad yang dikutuk Crucio
Sebab hipokrasi merupa candu, validasi kian pasang hingga nyaris menenggelam
Siapakah kita kelak bila menjadi yang paling menepati janji?
Atau kesepakatan hanya sekedar siasat seribu elak dari ancaman-ancaman?
Kita menjadi percaya kita menjadi individu paling aman saat kita dijeruji

Mantra-mantra telah dirapal
Orang-orang telah ditipu
Dengan seutas tali di leher, ia telah siap
Dibalik pigura sekawanan lain tertawa girang merasa lucu
Seorang pemilik akun awanama, lagi-lagi, hari ini mampus

 

 

 

Ludus

Yang lebih dulu alpa pada sebuah mula
Mungkin kepingan-kepingan yang hilang dan berserak semasa tiap-tiap kita dihempas ke dunia
Sebagaimana biasanya kita tiada menyesali
Malah kemudian melebur bahtera raksasa beserta isinya menjadi banjir binariTurut serta kerena melihat betapa kemilaunya kreasi dan kekacauan; anak-anak manusia, iblis, malaikat dan ragam rajutan genetik lain
Maka telah sampailah kita pada hutan-hutan sinema, lembah sastra dan ruang raung suara
Untuk sendirian mengarung segara memori berisi ribuan boneka berdaging algoritma
Entah kehampaan atau moksa, semua dengan mudahnya kita beli
Ribuan pasang mata kemudian mengaku paling hidup untuk mengajak bersama mati
Tidakkah mereka begitu jujur menampakkan kebohongan bahwa kita memiliki kehendak bebas?
Atau kesementaraan menang-kalah menjadi replika tunduk-tindas ikut campur para saksi sejarah?
Hingga dicukupkankan pada kenyataan semu suatu sepakat untuk selesai
Karena kisah-kisah akan berganti hingga mati kehabisan strategi bertahan dari rakusnya ambisi
Karena perasaan hidup diantara kewarasan yang dijeruji layar mati
Adalah tuntutan untuk mengulangi mati berkali-kali

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply