Bars of Death: Tidak Ada Nostalgia dalam Morbid Funk

Jirat yang bercetak “Homicide” bertulis tahun 2007 itu pecah. Bangkit untuk mati kembali dengan tubuh baru bernama Bars of Death. Meski beberapa pertandanya,”All Cops Are Gods”, “Tidak Ada Garuda di Dadaku” dan “Radio Raheem” sempat bergentayangan dan mengobati kerinduan bagi para pengikut tubuh lama Homicide. Aku sempat mengira beberapa track yang tetiba muncul dan kemudian hilang lagi itu bak khayalan macam penyintas kurang Risperidone. Tidak menampik racikan dari tubuh lama bernama Homicide menjadi kerinduan tersendiri meski Morgue Vanguard sempat merilis track bahkan album secara solo di tahun 2019. Kenyataannya aku sendiri terlambat untuk menyadari keberadaan album ini sampai pada akhir tahun ini menemukannya secara tidak sengaja saat “main-main” ke laman Spotify milik Krowbar.

Meski kembali dengan tema-tema politik dan pergerakan, namun rasanya komposisi dari musik dan diksi-diksi pada album ini rasanya lebih nakal bak puber kedua. Jauh sekali berkurangnya nuansa idealisme menggebu-gebu ala pergerakan mahasiswa jaman dulu. Dalam album “Morbid Funk” kali ini, Bars of Death masih dengan idealisme yang masih tertata dalam kepala, diksi-diksi yang masih meneraka, namun dengan nuansa yang seakan menampari kawula muda muda dengan cara yang lebih satir. Kesan tengil seakan bercanda sambil memaki ini persis “abang-abang gang nan humble” depan pos kamling yang biasanya nitip rokok surya, sungguh menyenangkan.

Hantaman beat dan scratch datang bertubi-tubi, serta beberapa cuplikan dari beragam media. Khususnya “DJ Nazqul Dan Dansa Lidah Api” yang mengandung impersonasi Snoop Dogg untuk mengejek mumble rapper namun selanjutnya dibantai oleh komposisi sample-sample musik klasik maha dahsyat bergumul dengan scratching yang sadis tapi di akhir lagi-lagi para tetua tengil ini bermain-main autotune dengan santainya. Sampai pula ke bagian rekonstruksi “oknum” yang sedang membalbali “anarcoh” di “All Cops Are Gods” rasanya membuat gemas dan merasa kalau ini album bandal kali. Beberapa yang lain bermain di komposisi seperti permainan gitar di “Radio Raheem” yang entah kenapa menimbulkan suasanya yang nyunda sekali.

“Tanyakan Carlo Giulliani apa arti melindungi dan melayani. Kami adalah pelindung kalian, tapi siapa yang melindungi kalian dari kami?” – Bars of Death

Jangan lupakan diksi-diksi dalam lirik yang membuatku sendiri senyum-senyum meringis dan geli. Salah satu yang menjadi favorit ada pada “All Cops Are Gods” yang ada pada quotes di atas. Tubuh kedua bernama Bars od Death ini benar-benar membuat perasaan geli yang menyenangkan seperti perasaan pertama mengucapkan kata kotor dan umpatan saat bocah (serius, aku tidak punya analogi yang lebih baik daripada ini).

Dalam isi, baik dari segi politik pergerakan, otoriternya oknum, ekstrim-ekstrim ideologi dan religi, kuasa penguasa serta keadaan rakyat masih jadi isu-isu yang terus diperjuangkan oleh Bars of Death. Jangan lupa cari media dengar (headset atau apapun itu) yang punya bass mantap, atau mengakalinya pakai EQ dan naikkan low agar kupingmu makin nikmat hingga orgasme.

Sangat disarankan bagi kalian yang kadung mengenal Homicide berekspektasilah setinggi mungkin bahwa album ini adalah album reuni, biar ekspektasi kalian itu di-[cakap kotor]-i oleh album (nyaris gagal) ini yang buatku jauh lebih bagus dengan beragam komposisi dan efek-efek yang ajaib. Begitupun, album ini bisa dicukupkan dengan komposisi shuffle di playlist Spotify. Berharap apa dari album yang diakui nyaris gagal untuk menyusun track-list yang mumpuni?

Setelah mendengar album ini, ada satu hal yang sepertinya bisa kita terima dan aminkan bersama. Tubuh lama bernama Homicide benar-benar sudah tiada. Kini sepertinya jirat sudah menjadi tiga, dikubur (lagi) bersama. Satu Homicide, satu Bars of Death dan satu lagi ekspektasi di kepala kau.

Leave a Reply