Benci

Aku bersiul di meja makanku kemudian kau mati

Kepalamu lemas lalu asap hitam yang wangi keluar dari mulutmu yang menguap kseperti janji bonus akhir tahun cuma bahan melamun, manyun

Ku loncati sebuah lilin menuju sendok dan mendarat di dagumu, indah betul bagai bukit yang belum tersampahi wisatawan yang menyampahi aturan warga yang dominan

Aku lalu berjalan di bibirmu yang tampak seperti jalan-jalan perbatasan desa pinggiran; korban lempar tanggung jawab siapa yang patut disalahkan entah beban atau anggaran?

Terjun masuk memacu rotor di jantungmu yang terganjal entah kata maaf atau umpatan yang kau simpan untuk dihangatkan jika kau butuh makan

Kau hidup lagi sebagai pemutar musik yang mengesalkan, judul yang selalu kau ulang: rutinitas, produktivitas, impunitas, minuman keras, luas teras, perangkat keras, ooohhh asing sudah memeras mengubah harga beras!

Aku lempar kau dari jendela, pecah berkeping di depan ambulan yang tergesa-gesa menyelamatkan hak marjinal! Seekor kucing tak selamat dari duel demi ikan dengan tuan yang melunas cicilan di akhir bulan.

Dibawa kau ke unit gelagat darurat dipukuli gagang berkarat, karena bukan arestokrat hanya progresif aktif mengetik berita masif dengan akun-akun fiktif

Kau bersiul di jerujimu berharap lahir bugil lagi agar tiap tahun memulai benci lalu hapus dosa modal idul fitri!

Leave a Reply