Di Malam Kau Memakai Baju Biru.

Tahun berlalu dan aku masih ingat bagaimana ketidaksengajaan bertemu denganmu berhasil mendobrak tahun-tahun penuh kesedihan. Aku masih ingat betul waktu, warna pakaianmu hingga senyummu yang malu itu.Ada percik aneh dalam kepalaku seketika itu, gesekan antara keingintahuan dan kecemasan tanpa tahu sebab.

Karenamu, kemudian aku mencintai puisi-puisi yang terasa menggelitik perut dan berbarengan dengan rasa senang yang benar-benar membuncah ketika membacanya. Rasa senang yang aneh, entahlah, tidak seperti rasa senang sehabis menonton komedi atau mendapatkan hadiah.

Lorong dan ruang yang pernah memuat kita di antaranya tak jarang menertawai kebimbangan tak beralasanku untuk sekedar mengucap salam di depanmu. Papas yang berujung pupus, aku menyapa dengan sepi.

Ah, bukankah gawai kita lebih lihai dalam bertukar kabar? Pertanyaan juga pernyataan bodoh nan klise aku lontarkan agar pembicaraan ini tidak berhenti. Aku serupa pewarta magang yang bahkan seumur hidupnya tidak pernah menikmati berita pagi. Singkatnya beberapa minggu kemudian kau hilang. Kabarnya, ada lelaki beruntung yang bersamamu. Nyatanya, mulutku masih mengatup kala kita bertemu.

Begitulah hari-hari berlalu dan aku membisukan hatiku dengan beragam tanda tanya yang kujawab sendiri. Sempat aku mencari seorang lain namun tidak juga berhasil, untuk hal semacam ini sepertinya aku benar-benar payah. Ah, sempat pula aku memutuskan untuk mencukupkan keinginanku untuk memiliki apapun itu. Namun nyatanya semua hal-hal romantis basi ini kembali pada ketidakberdayaanku untuk menghapus senyummu yang malu itu di kepalaku.

Sampai pada malam kemarin. Kau benar cantik dengan gaun itu yang kebetulan warna kesukaanku. Oh, adakah kau memoles perona pada pipimu? Atau ada yang menunggu untuk menjemputmu setelah ini? Atau perlukah aku bertanya bagaimana keadaan cuaca sedangkan kita di satu ruangan kini? Entahlah, yang jelas aku benar tidak berani untuk menyapamu.

“Bilakah kau menepi di labuhku?
Bilakah kau menjauh?
Membentang kau jelas di sana, namun tak teraih.
Kau tak datang pun tak pergi.” – Float, Tiap Senja.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply