Duapuluh

/1/
Ayah api
Ibu batu
Aku gunung malu-malu
Mantra-mantra yang disematkan padaku
Menenggelamkan aku pada riak tanpa hilir

/2/
Disini hanya ada tanda tanya yang merupa aksara
Ada titik-koma yang samar muncul merupa dendam-dendam terlupa
Sebuah pigura disembunyikan entah dimana

/3/
Hari ini sepotong bara lahir
Kau meniup perlahan tak padam
Hari ini bara menjadi arang
Kau membaringkannya pada merang paling nyaman
Hari ini arang menjadi api
Tidak menyalak
Tidak bisa menyalak
Tidak akan menyalak
Dan kau selalu tahu itu

/4/
Di surga tidak ada dosa
Tuhan menurunkan Adam untuk mengenalkannya pada angka-angka

/5/
Raja
Yang dicintai rakyat dan kolega
Berakhir jumawa
Lantas dewa murka
Dan menghabisi kejayaannya
Jadi tiada

/6/
Sebelum benda-benda terbang itu datang
Kami hanya merupa tanah lapang
Diatasnya: pabrik-pabrik dan para pekerja
Setelahnya,
Kami menjadi manusia setara
Yang paling dicari tanahnya

/7/
Sedang menertawai tragedi yang mengajarkan diri sendiri untuk menertawai tragedi yang menimpa diri sendiri karena tragedi yang capek ditertawai oleh diri sendiri yang tidak berkesudahan terkena tragedi yang ditertawai dirinya sendiri.

Beberapa hari kemudian aku bahkan tidak tercantum dalam lembar terimakasih sebuah skripsi.

/8/
Tingtang tingtung
Jadi linglung
Tingtang tingtung
Matamu terpaku layar kepalamu limbung
Tingtang tingtung
Kopi dan percakapan sama-sama hangat
Sama-sama membuat mual bukan asam lambung
Tapi kau diam karena gawaimu
Tingtang Tingtung

Ingatanmu sebatas kultur pop yang beralih secepat panorama terganti antara sahara-savana-tundra pada kalender kamarmu

Aku memang tidak pernah sepenting angka-angka merah dan tanggal satu dan angka bertulis “jatuh tempo”

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply