Erospati

Karena seharusnya aku tidak menyerahkan seorang bujang dalam dadaku untuk seorang dara yang ingin menikmati hidup bak gadis kota

Yakin betul kalau nelangsa kelak menguntit setapak perjalananku dan suatu saat akan memukul dengan balok raksasa berukir: ‘Dia tak mencintaimu barang sehari pun’; entah kapan itu namun aku yakin ada memar baru sejak kemarin

Setiap aku melihat lampu-lampu kota bak kunang-kunang, pigura masa kecilku berhenti berderap dan menatapku yang merupa telaga; jadilah mula dan kita akan terjaga

Di atas, beledu mulai berwarna dan tanggal-tanggal mendesak isi kepala, aku ingin meneteskan air mata serta tubuhku ke jalanan bersama lantunan radio entah siapa di lantai bawahku

Namun seorang bujang dalam dadaku ingin melihat esok dan esok yang lain lagi

Aku bangun dan dadaku tergambar sebuah koma; ku panggil dia “Nona”

Leave a Reply