Esensi Dari Sebuah Pagi.

Ketika ucapan pagi pun tak terbalas lagi.
Disitu aku berhenti menerbitkanmu dalam hangat di segelas teh,
Atau sekedar jadi sisa realita hidup yang tersedimen dari poci kopi yang ku tenggak malam tadi.

Bubur pagiku hambar,
Tak ada kita sebagai pelengkapnya.
Sisi baiknya buburnya halus, lebur.
Menyiapkan keikhlasan jikalau dia pergi.

Pisauku terus mengetuk.
Panciku mendidih.
Wajanku bergetar.
Poci kopiku menggelegak.

Aku mencoba memasak rasa diantara kita, lagi.
Namun angin memaksaku menyanyikan rindu untuk dilenyapkannya ke tengah samudera,
Katanya sama saja dengan dedaunan yang tak jelas asalnya.

Tak ada cukup rima pagi ini.
Bukan tak ingin, namun untuk apa rima demi rima bila kau tak juga menyambut setiap sapa?
– Pagi hari 1 Mei, pengecut yang terlalu sabar menunggu diantara teh dan kopi. ZFD.

Leave a Reply