Jika

Hidup akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Semua akan baik-baik saja. Hentakan alat-alat musik dan parau sang vokalis akan tetap seperti itu. Pameran-pameran besar dan kecil akan tetap ramai dengan kolega-kolega. Tulisan-tulisan yang dicetak mungkin akan tetap berakhir sebagai bungkus gorengan. Entah kenapa aku bisa menganggap bahwa diriku adalah sesuatu yang ada, sementara waktu akan terus memburu tanpa jeda.

Sebatang rokok mungkin dihabiskan dalam hitungan menit dan disambung dengan batang rokok lain berulang hingga satu bungkus. Entah dalam keadaan segel plastik yang baru dibuka atau masuk angin setelah satu minggu karena memang merk itu tidak laku lagi kini. Sebatang rokok bisa juga berganti cerutu mahal atau permen pengganti receh kembalian. Sebatang rokok bisa jadi hanya kesia-siaan untuk membuang kebosanan bisa pula pertahanan terakhir dari kepala yang sudah “baling”. Mungkin aku hanyalah sebatang rokok dalam kotak hidup masing-masing.

Harapan-harapan ingin menjadi “rokok yang paling rokok” ini kadang-kadang membunuh. Kenyataannya ada banyak rokok dalam satu bungkus (akan lebih sial lagi kalau kau lahir sebagai rokok kalengan). Sering kali nasib menunjukkan bahwa kelahiran sebatang rokok bisa jadi hanya sebagai rokok terakhir yang dijual dalam keadaan masuk angin, terkoyak bolong karena batang tembakau yang memberontak, tidak sengaja basah, patah karena dikantongi tanpa kotak dan yang paling sial menjadi rokok yang dilucuti hanya untuk diambil filternya.

Tetapi hidup selalu punya tetapi (begitulah kata Aan Mansyur), saat ada batang rokok yang merasa “lebih rokok” dari rokok yang lain, hal yang penting ternyata lembaran kertas berkilau yang bisa ditukar ke warung atau tukang tambal ban sebagai katalis.

Kematian sebagai sebatang rokok juga tidak begitu istimewa. Tidak ada perayaan. Tidak ada kunjungan dan rapalan doa. Tidak akan sempat pula sebatang rokok menyebut wasiat-wasiat sebelum asapnya diputuskan keluar lewat bibir atau lubang hidung.

Karena memang tidak pernah menjadi sepenting itu. Toh, tidak hadir sebagai batang rokok orang juga tetap akan hidup. Mungkin pula mereka akan lebih sehat dan merasa hidup.

Lelah sekali rasanya menjadi sarana rekreasi untuk orang lain.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply