Joe Million: Self-Vandalism yang Moksa Setelah “Sakaratul”

Van Gogh, Rembrandt, Kahlo atau sebut saja nama seniman lain (pun selain seni lukis) yang sukses menjadikan self-potrait mereka sendiri sebagai salah satu karya yang banyak dikenal, kemudian masukkan Joe Million di dalamnya. Lebih lagi album ini bisa jadi sesuai dengan judulnya, “Vandal”, bisa jadi album Joe yang satu ini lebih cocok dianggap sebagai “self-vandalism”. Tidak hanya menjadi potret kehidupan seorang Joe Million namun dengan sukarela Joe “mencoreti” kisah hidupnya sendiri dengan rentetan rima dan flow yang tentu saja masih tengil, padat dan membuat kita berujar “Joe, Joe, Joe, Joe. Istirahat dulu Joe! Coba kau ambil minum dulu itu, Joe!”.

Akrab dengan penggalan kalimat diatas? Yap! Penggalan dari “Sakaratul”, rilisan Joe Million bersama Mardial yang sempat menggemparkan skena hip-hop Indonesia sekaligus melejitkan nama Joe. Tentu saja validasi berupa rilisan terbaik nomor 1 dari majalah Rolling Stone Indonesia (RIP) membuat sakaratul menjadi magnum opus seorang Joe Million. Menghindar dari cap bahwa kombinasi Joe Million dan Mardial hanyalah sebatas “Sakaratul”, track itu pada akhirnya “dimatikan” dari Spotify dan belum kembali sampai tulisan ini turun.

Self-vandalism

Diawali dengan producer tag dari Mardial dilanjut beragam cuplikan “testimoni paling jujur tentang Joe Million”, album ini resmi dibuka dengan “Cepu”. Ah, tentu saja dari lirik dan outro dari track ini jelas sekali bagaimana Joe Million bercerita tentang cepu (atau mungkin pernah “terlibat”) dan kemarahannya pada cepu (siapa yang tidak?) yang sepertinya murni dari lubuk hati yang paling dalam.

Transisi yang halus mengantarkan pendengar album pada “Kebanyakan Sinte”. Tidak heran kalau lagu ini jadi favorit  di album ini oleh beberapa teman. Beat dari Mardial yang dipenuhi detil sampling yang mantap ditambah dengan lirik berdialek khas Papua menjadikan lagu ini terasa sangat personal untuk Joe Million beserta perjalanan hidupnya.

Berkolaborasi dengan Kay Oscar, “Tempel di Gusi” menjadi track yang terkesan chill namun dengan lirik yang berisi rentetan kegagalan yang menjadikan lagu ini lebih tepat disebut sebagai renungan. Dilanjut oleh “Fight Club” yang bicara banyak (secara gamblang) tentang keadaan skena hip-hop Indonesia. Seperti yang sudah diperkirakan dari seorang Mardial, ada saja tingkah usil untuk menyusupkan sedikit candaan di akhir lagu ini.

“Jembatan Api” yang berkolaborasi dengan Dzulfahmi memberikan track ini warna baru dan menjadikan album ini terasa semakin sempurna. Fase romantika dan sisi “Don Juan” dari Joe Million keluar begitu saja lewat tembang berjudul “SLXT”, untuk selanjutnya jatuh dan kecewa sejadinya lewat “Anjinglah Hidup Ini Pantat Lubang Dengan Cinta”.

Track dengan dentuman beat yang cukup kejam beserta rentetan lirik yang padat lahir sebagai “Kupas Kuningan”. “Smileys” yang menjadikan rentetan lagu di album ini seakan mendingin, mungkin semacam jeda bagi pendengar. Dengan sentuhan Matter Mos di lagu ini, menjadikan lagu dari Joe Million ini cukup asik bersanding dengan beragam lagu di daftar putar lagu-lagu “chill”. 

Setelah dibawa jalan-jalan oleh beragam perjalanan hingga tanpa sadar kehilangan sosok kejam lirik-lirik cepat Joe Million yang dikenal saat ini, dia kembali pada “Siasat”. Jujur saja track ini jauh lebih kejam ketimbang “Sakratul” dan seakan dengan gagah menunjukkan bahwa inilah sosok Joe Million yang sudah “jadi” dari beragam proses yang sudah terjadi dan diceritakan sepanjang album ini.

Tentu saja album ini akan terasa keren jika berakhir disini. Namun bak ending soundtrack dalam anime atau produk visual lainnya, “Sepeda” mendapatkan tempat tersendiri untuk diletakkan sebagai akhir album ini. Mengingat Joe Million yang menghabiskan sebagian besar masa kecil hingga remaja di Papua, lagu ini terasa sangat intim dengan Joe dan masa kecilnya. Bagian yang bikin merinding di lagu ini tentu saja nuansa orkestra di belakang yang terdengar sangat mewan dengan balutan detil musik modern. Seakan tidak dibolehkan terkagum berlama-lama, tentu saja sebuah cuplikan suara Mardial yang sembrenget mengakhiri album ini sambil menahan tawa.

Album ini seperti sebuah rentetan yang panjang mirip anime atau komik-komik khas Shonen Manga yang menunjukkan pengembangan karakter si tokoh utama menjadi hero dengan sangat rapi. Rentetan lagu yang terkesan naik-turun justru menjadi kesan tersendiri di album ini yang seakan berkata: “bukankah hidup memang begitu?”.

Moksa

Secara pribadi album segar ini bisa dikatakan sebagai album hip-hop terbaik penutup tahun ini. Sekaligus kado Natal buat telingaku. Flow cepat dan padat, rentetan rima yang kaya nan pedas khas Joe Million dipadukan dengan beat-beat nyentrik garapan Mardial serta kolaborasi dari Kay Oscar, Dzulfahmi dan Matter Mos menjadikan 11 lagu di album ini menjadi kombinasi yang mantap bagai mie instan pakai rawit saat hujan malam hari.

Seringkali seorang seniman/musisi/creator/terserahlah yang merasa kesulitan membuat karya yang lebih baik setelah (sengaja atau tidak) menciptakan mahakarya terbaik dalam hidupnya. Beberapa bahkan menjadi one hit wonder, melejit dan hilang begitu saja persis kembang api. “Vandal” (dan “Turbo”) menjadi bukti bahwa seorang Joe Million tidak terlena pada kilau validasi dan prestasi. Serupa dengan lirik-liriknya yang cukup jogal dan bandal, dalam waktu kurang dari 3 tahun Joe berhasil melawan dirinya sendiri sekaligus moksa setelah “Sakaratul”.

Leave a Reply