Kembali Ngeblog di 2020, Buat Apa?

Aku sendiri lupa kapan terakhir kali menulis cukup panjang di blog sendiri, mungkin sekitar tahun 2015 atau 2016. Setelah beberapa tahun hanya menulis di beragam microblog seperti Line dan Twitter (dan aku yakin tidak semuanya layak disebut sebagai tulisan), beberapa media komunitas atau untuk kebutuhan kerja. Selain malas (tentu saja), aku merasa tidak ada keuntungan yang berarti saat itu. Tentu saja kesalahan terbesar adalah ekspektasi di awal karena pada saat itu dalam pikiranku setelah menulis akan ada keuntungan baik secara materi dan ketenaran yang menyusul, pikiran instan ala anak muda pokoknya. Setelah tahun-tahun terlewat aku baru menyadari kalau selama ini salah satu caraku mencari ketenangan adalah dengan tetap menulis walau pendek-pendek, yang penting nulis. Maka jadilah aku kembali ngeblog di 2020 ini dengan sisa-sisa gaji terakhir (untungnya ada promo diskonan) dan segala ceritanya yang bikin riweuh.

Ada banyak sebab sebenarnya kenapa aku kembali ngeblog dan pakai top level domain (TLD). Salah satu hal yang berhasil menjadi trigger itu sesederhana pesan teks dari atasanku yang berpesan untuk terus mengasah skill. Pesan singkat itu datang malam-malam beserta bukti transfer gaji terakhir. Jujur, pada saat itu aku menganggapnya cuma sebagai basa-basi hanya karena merasa tak enak kalau tim kami, bagian kreatif, harus “dibubarkan”. Alasannya tentu saja pandemi yang menyebabkan profit perusahaan jadi merosot. Setelah menenangkan diri, akal sehatku kembali dan aku merasa ada benarnya juga, mau tidak mau harus belajar hal baru dan lanjut cari kerja lagi.

Malam-malam setelah tidak bekerja lagi, seringkali di habiskan dengan mengobrol ke beberapa teman sudah lebih berpengalaman membahas dunia kerja yang semakin ruwet ini karena pandemi, tidak jarang pula terselip curhat-curhat nan sedih diantaranya. Terima kasih pada dua nama yang paling sering aku tanya (dan baiknya terus menjawab tanpa lelah) soal kerja, Edgar Ong dan Dewi Sutrisno. Edgar yang kayanya udah “suhu” banget soal dunia marketing ternyata juga sering ngasih motivasi selipan di tiap chat, betul-betul enak buat diajak bahas bahasan serius. Dewi yang bidang kerjanya hampir sama denganku berhasil membuatku jiper dan minder hanya dengan melihat CV-nya. Seketika aku berpikir gimana cara agar bisa bikin portofolio yang keren seperti punya Dewi. Walau secara isi sudah tentu sulit (merek-merek besar seperti itu hanya bernaung di ibu kota), tapi ku coba untuk menyusun seadanya dan mulai mengubek-ubek berkas-berkas hasil kerja sejak awal jadi mahasiswa, kerja lepas (freelance) hingga kerja di perusahaan beberapa kali. Beberapa berkas yang ada di laptop lama tentu saja ludes. Jadilah sebuah portofolio seadanya dan kupakai untuk melamar kerja dan hasilnya berhasil beberapa kali sampai pada tahap wawancara dengan mudah meski belum ada kesepakatan yang dirasa cocok pada waktu itu.

Di sela-sela mengikuti berbagai kursus daring, pada bulai Mei aku yang saat itu sedang asyik scroll Twitter tiba-tiba melihat webinar gratis yang dibawa oleh Alivia Awin tentang content writer. Mumpung statusnya gratisan, ya diikuti saja. Secara mengejutkan materi-materi yang diberikan membuatku merasa cukup tidak hanya dari segi motivasi dan dasar menulis, tapi sekaligus ngajarin cara menyusun portofolio dan menentukan rate untuk kerja lepas. Segala hal tersebut didapatkan hanya dari pengalaman sebagai blogger. Terima kasih Kak Awin!

Tidak cukup sampai disitu, di bulan Juni ada lagi webinar dari sosok yang sudah aku kenal sebelumnya waktu masih rajin ikut DURIAN (Diskusi Ringan Anak Medan) bareng Blogger Medan, Kak Mollyta Mochtar! Meski di inisiasi oleh wadah untuk mahasiswa, aku tetap ikut saja. Lagi-lagi aku jadi tambah bersemangat buat mulai ngeblog dan menulis lagi setelah ikut di webinar itu, bukan sekedar ingin punya blog lalu tidak menulis dan membiarkan blog jadi kosong melompong seperti dulu. Terima kasih Kak Molly!

Secara berani (lebih tepatnya nekat) aku menghabiskan gaji terakhir untuk membeli domain dan hosting untuk membuat blog ini. Syukurnya ada diskonan pada saat itu yang berhasil menyelamatkan isi dompet. Pikiran pada saat itu ya sekalian saja pakai self-host biar bisa dimodifikasi sesuka hati dan letakin portofolio, biar kalau cari kerja yang berhubungan dengan digital portofolionya bisa dilihat langsung kaya disini. And it works! Beberapa minggu sebelum tulisan ini aku diterima karena pertimbangan blogku yang masih setengah jadi saat itu.

Begitulah kira-kira ceritaku kembali ngeblog di 2020 yang kacau ini. Di post kali ini mungkin itu saja. Mungkin di post selanjutnya masih membahas blog ini. Proses membuatnya dan hal-hal yang bikin aku kaget karena banyak hal yang berubah selama tidak memantau dunia blogging begitu lama. Semoga kali ini bisa konsisten dan tidak hilang timbul. Ah, iya! Beberapa tulisan di blog lama juga sudah aku pindahkan ke sini. So, enjoy!

Sebagai penutup, maaf kalau tulisan pertama ini rasanya kaku sekali (aku juga tahu). Mari latihan menulis lagi.

Leave a Reply