Kepada Nona Manis.

Kepada nona manis,
Yang menunggu dipinggir telaga penuh tangis.
Kemarilah, dan gapai kehadiranku yang statis.
Yang sering menunggu didepan rumahmu sore-sore gerimis.

Ayolah, nona manis.
Ingin aku sebentar saja menyeka air matamu dengan sapu tangan bergaris-garis.
Sesederhana inginku menyeka lukamu dengan peluk yang penuh, sore hari berdua diantara kopi dan teh manis.

Tak apa, nona manis.
Aku akan menunggumu hingga saatku kritis.
Hingga aku hanya bisa mendesis dan meringis.
Karena kutahu usia dan ragaku akan habis.

Namun rinduku tidak.

Leave a Reply