Konservatif.

Pagi sederhana dibuka dengan teh melati
Dan air dingin untuk siang kala tenggorokan meradang
Pun malam yang sangat bersahabat dengan kopi hitam

Setiap hari bisa sesederhana itu
Tanpa rasa yang membelenggu
Gembira dengan harap yang baru
Kesedihan dari pisah yang pilu
Diam yang saling tunggu
Atau rasa bersalah dari pilihan yang terburu-buru

Setiap hari bisa berwarna
Bahagia berganti kecewa
Harap berganti nelangsa
Atau jumpa yang menyelipkan rasa
Dan banyaknya kemungkinan yang tak bisa dihitung dengan algoritma

Jujur, aku hanyalah perindu yang naif
Yang merindu secara agresif
Menulis sajak masif
Namun temu yang pasif

Ah, gelasku kosong lagi
Terdistilasi dengan ratusan kecewa tiap hari
Terdispersi lalu mengendap dan mati
Aku ingin mengisi lagi
Mungkin bisa kita ulang dari teh melati

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply