Luput dan Mati

Dalam kepalaku, ingatan-ingatan berumur pendek. Aku bisa dibilang orang paling buruk untuk membahas ingatan. Entah perayaan atau penyesalan, semuanya bernasib sama: dilupakan begitu saja dalam hitungan hari. Syukur jika aku masih ingat hingga hitungan minggu. Meskipun kadang ingatan-ingatan bisa bangkit kapan saja dari jirat dalam bentuk mimpi dan percakapan (salah satu alasanku suka bertemu dan berbicara dengan banyak orang baru: mencari yang hilang). 

Hal ini membuatku yang pemarah tidak mampu menyimpan dendam terlalu lama. Percayalah, sering aku lupa bermasalah dengan siapa bahkan menyerang siapa di hari kemarin setelah bangun tidur. Namun bukan berarti hal ini menjadi berkah. Hal-hal baik dari orang lain, cerita yang menggembirakan, pujian dan perasaan hangat saat berpapasan dengan orang yang ditaksir sangat sukar untuk dipanggil kembali ke dalam kepala. Sekeras apa pun aku mencoba.

Mungkin orang-orang dapat menceritakan hal-hal yang indah di masa kecil, atau luka hatinya saat patah hati pertama kali di usia remaja. Aku sudah tidak ingat apapun. Beberapa hal yang masih aku ingat dari masa lalu biasanya aku coba ukir dengan beberapa cara: menulis, mengingatnya secara rutin atau menyimpannya di memori orang lain dengan cara membicarakannya secara terus-menerus.

Perihal ingatan ini jujur sering membuatku kerepotan. Wajah-wajah yang tidak aku kenali menegurku saat berpapasan, kabur dalam mengingat beberapa hal penting hingga menceritakan ulang cerita yang sebenarnya sudah aku sampaikan di hari kemarin (malu sekali).

Begitupun, aku masih bisa bertahan hidup dengan mengabaikan ingatan dan kenangan sebagai kudapan di tengah pembicaraan. Entah bagaimana nanti semisal kenangan jadi pengganti oksigen.

Begitulah, menjadi orang yang pelupa meski ada untungnya sebenarnya cukup merepotkan juga. Sebuah fakta: hal ini juga alasan kenapa aku tidak begitu suka menonton sepak bola, terlalu banyak pemain apalagi kalau sudah musim transfer pemain. Aku hanya bisa mengingat bahwa pemain bola itu kalau bukan Ronaldo, ya Messi. 

Leave a Reply