Membayangkan Kisah Kasih dan Esok Hari

Ramalan dan petuah seringkali datang dari tempat-tempat yang dianggap sakral; cuaca, orang-orang tua, kitab hikayat, ampas teh dan bibirmu. Kesamaan mereka adalah ketakutanku menatap bagian paling berkilaunya, cercah cahaya yang seringkali melahirkan nasib-nasib buruk.

Aku tidak tahu bagaimana aku begitu betah taruhan di dalam rahim sedangkan hidup yang yang teratur kehilangan daya magis saat orang-orang gila mulai membawa tagihan dan masalah negara di kakinya serta kampung halaman di kepalanya.

Aku mulai menyukaimu seperti nasi goreng ibu di hari minggu yang rasanya berhenti aku protes sejak umur sepuluh tahun.

Bibirmu kerap melempar puji-pujian akhir sekolah untuk setiap prestasi yang sebenarnya tidak pernah aku raih. Pendar yang sama dengan hari minggu dari masa lalu. Aku tahu hal yang buruk akan terjadi, dan aku harap itu hanyalah acara tinju di televisi.

Leave a Reply