Mendengar Iwan Fals

/1/
Pagi ini kau kembali bertanya pada aku hal yang semestinya sudah kau ketahui. Dan seperti biasa, kau bertanya seperti pewarta paruh waktu dan aku memberondong jawaban seperti pakar yang selalu berandai negara ini tidak baik-baik saja.

Saat yang lain kau berubah seperti anak kecil yang bertanya-tanya tentang hal dewasa yang tidak diketahuinya. Kenapa harga bisa melambung, angkutan kota yang digilas mobil mewah, dan susumu yang tidak kunjung terbeli.

Aku menyerah. Aku menerka-reka. “Tanyakan saja pada Iwan Fals! Tahun berlalu dan pertanyaan ini masih sama. Yang beda hanya mahasiswa yang binasa,”.

/2/
Kau menggerutu dan kembali tenggelam dalam gawai seakan lupa kalau aku lebih mencintai matamu ketimbang melamunkan rentetan mobil keluarga yang semakin menyesakkan kota. Kemudian dengan sigap kau menjarahi kepalaku, “Apa kau tidak lagi mencintaiku?”.

Aku sangat siap dengan jawabanku seperti kau menunggui pidato terakhir Jenderal yang terseyum itu.

“Seperti bintang yang tergusur lampu taman, seperti monumen yang digilas hotel berbintang, seperti harga yang menggila dan hutang luar negeri yang tak kunjung lunas. Hatiku ini seperti permasalahan negara!”.

Seyum puas seiring pudar kau. Kau tidak meninggalkan apa-apa dan kami tidak menemukan siapa-siapa, selain namamu yang kami suarakan tiap akhir pekan. Belakangan, menjadi isu tahunan di televisi dan pojok koran.

Tanjung Morawa, 12 Juli 2017
Setelah Puisi ke-21

Leave a Reply