Mengarak Awan

Sesaat kau lupa menulisi dahimu “aku adalah tuan” untuk sekali lagi
Segala ruh bergantian menanami pucuk di kepalamu tiap pagi
Maka air yang dituang mengendap jadi kerak piutang
Tuan mati di kepalanya sendiri
Tuan mati atas kepalanya sendiri

Tubuh yang sekarat jadi sisa-sisa siasat untuk dipanjati
Dahan-dahan yang nyaris mati begitu terang bagi yang kelana mencari api
Cantiklah langit saat aksara tersundut habis menjadi rama-rama
Hingga mungkin habis dan pengelana urung kembali
Tuan telah menjadi rumah
Tuan tidak punya rumah

Dada-dada kian pejal tiada api
Dahan-dahan kian tinggi menanjak lawan
Siapa yang sebenarnya ingin Tuan naungi?
Tanpa kawanan, Tuan hanya ingin sibuk mengarak awan