Menjadi Lelatu

Gedung yang menjulang tidak menyisakan ruang untuk melihat bulan atau memang dia tidak muncul malam ini

Tiada lain yang berpendar, hanya redup jalan, toko yang berberes ingin tutup dan matamu yang bukan untukku

Di kamar yang kemuning kau menghidupi bayi besar lain yang kekurangan susu ibunya puluhan tahun lalu

Membiarkan mereka berkerumun di bukit-lembah tubuhmu, entah sekedar membuat layang-layang atau bermain kelereng

Aku menghabisi kayu, daun dan kepalaku agar terbara sejadinya sambil mendengar bayi-bayi besar yang mulai jadi kekanak memainkan gemericik sungai di matamu

Di bawah jendela aku mendengar isak yang bukan milik mereka setelah kau berulang kali meyakinkan entah pada siapa bahwa kau bahagia

Semburat perlahan memakan tiap pembuluh, aku berterbangan menjadi asap legam yang mengintip kau malu-malu

Jangan tutup jendelamu

Aku ingin menjemputmu

Aku ingin memelukmu

Agar kita padu

Kau melihatku yang kian tinggi kemudian mencoba menggapaiku

Saat kau berhasil memelukku, hujan turun dan aku merupa jelaga. Aku balik memelukmu

Kita berdua jatuh dan tidak berusaha mendarat. Karena kau begitu tahu kepala kita yang menghantam tanah adalah sebenarnya rasa yang kita idam

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply