Pigura

Memulai desember dengan membuat tantangan diri sendiri di ujung malam. Sebetulnya sudah terpikir mengikuti tantangan menulis sebulan penuh ini sejak bulan lalu, hanya saja pada saat itu sudah entah tanggal keberapa dan terkesan tidak cantik jika terburu-buru untuk menyesuaikan angka tantangan dengan tanggal. Jadi dimulailah tantangan 30 hari menulis di bulan yang punya 31 hari ini.

Yang pertama tentang kepribadian. Cukup berat rasanya menulis topik ini mengingat aku bukan orang yang mudah untuk menilai diri sendiri. Komunikasi intrapersonalku bisa dibilang buruk. Melihat kelebihan dan kekurangan diri sendiri juga rasanya sering terbantu karena pandangan dari orang-orang lain. Meski tidak meyakini sepenuhnya pandangan orang lain karena aku merasa tidak begitu dan berujung pada pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepala.

Meski sempat punya kebiasaan buruk (mungkin sekarang masih namun tidak begitu sering) untuk membenci diri sendiri, beberapa pendapat orang lain mungkin hanya dasar yang mereka lihat. Tidak jarang pula beberapa bentuk validasi atas kelemahan dan kekurangan bisa salah.

Diawali dari sisi buruk terlebih dahulu mungkin. Gampang tersinggung, tidak sabar dan pemarah. Mungkin ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain. Tidak diragukan lagi ketiga hal ini secara tidak sengaja terbawa dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab dalam membesarkan seorang anak. Sebagai individu yang tidak begitu cemerlang dalam segi akademik (yang seharusnya mereka bersyukur aku tidak pernah berada di urutan bontot), dibandingkan dan dievaluasi secara kohersif membentuk pribadiku yang keras. Ah, jangan lupakan juga batasan-batasan yang kalau dinilai ulang sepertinya kurang rasional untuk seorang remaja yang hidup di era serba teknologi. Namun semuanya sudah kadung terjadi dan beginilah hasilnya.

Sisi buruk yang lain mungkin dari sisi sosial. Karena berbagai hal yang terjadi selama hidup pula rasa-rasanya semakin berumur semakin enggan untuk membentuk ikatan emosional yang lebih di tatanan sosial. Takut kehilangan, takut tidak sesuai dengan ekspektasi orang lain, takut tidak diterima dan yang terburuk takut ditinggalkan. Mencocokkan diri dengan orang lain juga belakangan menjadi sulit. Jangan tanyakan pula soal hubungan asmara yang jadi lebih sulit karena kemampuan sosial yang semakin memburuk ini.

Masih banyak sebenarnya bagian-bagian tidak baik dalam diri ini. Namun seperti awal cerita tadi, aku sendiri buruk bahkan untuk mengingat kebaikan dan keburukan diri sendiri. Mungkin kau yang membaca ini akan tahu sendiri jika sudah bertemu dan kenal betul. Lagi pula kurang elok rasanya mengumbar keburukan diri sendiri secara total di media sosial. Bukankah dalam dunia yang maya ini terkadang kita perlu berias dalam kepalsuan?

Meski begitu, beberapa hal dalam ini mungkin perlu di apresiasi. Beberapa orang menganggapku baik, ya meski kata baik ini pun perlu dipertanyakan lagi. Kalau untuk hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan norma, tentu saja tidak ada catatan buruk. Prinsip hidupku yang menghindari mencuri dan menipu dalam keadaan terdesak sepertinya masih terjaga. Hidup normatif sesuai dengan tuntutan masyarakat kadang ada baiknya juga. Selebihnya aku merasa kalau diri ini tidak begitu baik, biasa saja.

Beberapa orang menganggap aku cukup pintar, untuk yang satu ini aku agak meragukannya. Entahlah, tapi rasanya kalau aku pintar betul mungkin aku sudah menulis banyak hal-hal populer dengan ribuan validasi di media sosial, jadi hartawan atau menulis buku super-tebal. Ketiganya masih belum terjadi sebenarnya. Namun kalau untuk rasa ingin tahu yang besar dan mencoba hal-hal baru, hal ini memang betul adanya. Bisa dibilang sering kali aku berada selangkah di depan orang lain hanya karena rasa ingin tahu yang mendalam.

Yang terakhir mungkin loyal. Bagi beberapa orang yang sudah mengenalku mungkin tahu kalau pada saat aku lumayan berada dulu, aku sering ngobrol dan terkadang mentraktir orang-orang meski tidak banyak. Kemampuan finansial belakangan yang sedang buruk membuatku membatasi diri untuk tidak berkomunikasi dengan memberi barang atau hadiah pada orang lain, tapi masih sering aku berbagi hal-hal menarik di dalam kepalaku yang aku tahu pada orang-orang yang bertanya. Semoga keadaan finansial bisa menjadi lebih baik lagi agar bisa sering berbagi dalam bentuk harta seperti dulu lagi. Jujur saja, berbagi itu sangat menyenangkan.

Mungkin itu saja hal buruk dan hal baik yang bisa dituliskan. Selebihnya mungkin bisa berkenalan, saksikan dan nilai sendiri. Sungguh tidak ada keinginan untuk melebihkan atau mengurangi nilai dari diri sendiri. Walau tidak menampik juga bahwa atensi dan afeksi itu seringkali menyenangkan sekaligus melenakan.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply