Sajama Cut: “Ear-gasme” Warita Pribadi dalam “Godsigma”

Di pertengahan Maret, sebuah surel dari Bandcamp nangkring paling atas meminta lebih dulu dibaca: “Sajama Cut just released Kesadaran/ Pemberian Dana/ Gempa Bumi/ Panasea“. Langsung saja aku mengambil headset dan mendengarkannya tanpa gangguan. Sungguh, perasaan waktu itu sangat segar sekali setelah mendengar track yang satu itu. Ada suatu perasaan rindu yang membuncah dan perasaan senang lain yang mengiring. Rasanya kurang, hanya satu track dan sedikit berharap kalau band indie rock asal Jakarta ini mengeluarkan album bersama lagu ini kemudian. Waktu-waktu berlalu ditambah kesibukan waktu itu yang tidak memberikan porsi untuk mencari dan mendengarkan rilisan-rilisan baru secara khusyuk.

Saat blog ini rampung pertengahan Oktober lalu dan memutuskan untuk lebih banyak menulis soal musik kemudian, beberapa jajaran nama (terutama musisi dan perupa Medan) sudah masuk waiting list untuk diulas. Kebetulan yang magis, beberapa hari kemudian surel dari Bandcamp lagi-lagi masuk dan membuatku sangat senang. Harapan Sajama Cut merilis album baru mereka jadi nyata. Setelah mendengar album ini, lekas saja aku memasukkan nama Sajama Cut dan judul album: “Godsigma” ini ke dalam draft. Album ini berhasil membuatku langsung mengingatnya menjadi salah satu album musik terbaik di tahun 2020.

Dibuka dengan “Adegan Ranjang 1981 (<3) 1982” yang juga sudah curi start dirilis secara digital (yang sialnya terlewat karena kesibukan) berhasil membuatku membisu hampa. Lirik yang begitu magis membius dan terdengar sangat akrab menimbulkan perasaan rindu pada beberapa hal: menulis puisi, panggung rutin mingguan dan seseorang yang dulunya kuhabiskan waktu dengannya untuk membahas berbagai hal (sialnya gaya menulisnya mirip dengan gaya menulis lirik lagu ini). Meski dalam beberapa publikasinya Sajama Cut mengaku album ini berangkat dari cerita personal, namun album “Godsigma” ini berhasil membuat aku sebagai pendengar berhasil merisak perasaan yang lama ditutup. Terbukti bagaimana paragraf ini jadi sangat melankolis.

“Kesadaran/ Pemberian Dana/ Gempa Bumi/ Panasea” yang sudah didengar jauh sebelumnya tetap saja menjadi hal yang asyik dengan transisi di awal dan akhir lagu ini. Detil-detil dari gitar dan synth yang terasa seakan Sajama Cut sedang mengajak pendengar untuk meramaikan depan panggung. Dilanjutkan dengan dentuman drum yang membuka “Menggenggam Dunia” dan dilanjutkan dengan “Rachmaninoff dan Semangkuk Mawar Hidangan Malam”. Lagi-lagi, dari dua kata ini yang mengejutkan bukan hanya dari nadanya saja, namun juga penggunaan rima yang dipatah dan diulang seakan membentuk iringan bunyi yang baru.

Sebagaimana aksi panggung pada umumnya, Sajama Cut mengambil “istirahat” pada “Lukisan ‘Plaza Selamanya, Leslie Cheung’ Melukisku Melukisnya”. Entah kenapa nada lagu ini membawaku mengingat kembali pada lagu “Mari Bunuh Diri” yang sempat dibuat dan dirilis ulang beberapa tahun silam.

Kembali menghentak dengan tabuhan drum lengkap dengan efek dari synth yang unik, “Lautan Yang Memeluk Cermin” sukses menaikkan sedikit mood sebelum “Katedral Tiongkok” menenggelamkan pendengar kembali pada nada yang mengawang yang mengingatkan kembali Sajama Cut di “The Osaka Journals”, tentu saja dengan kejutan terakhir berupa rentetan gitar di akhirnya.

Meski masih dengan nada yang mengawang, namun “Tekstur Kulit Wanita Kaya-Raya” justru mengantar pendengar pada nuansa (lebih tepat kalau disebut simpulan) dari album “Hobgoblin”. Album ini sukses ditutup dengan “Terbaring di Pundak Pesawat, Termakan Api, Terlentang, Tersenyum” yang meski kembali menaikkan suasana album ini namun tidak terlalu timpang dengan track sebelumnya yang menghindarkan album ini dari efek “roller coaster“.

Satu kata yang mampu menggambarkan album ini secara keseluruhan adalah “Ear-gasme”. Perhatian dan apresiasiku ingin kuberikan pada lirik-lirik di album ini yang kesannya magis. Diksi dan metafora yang tidak umum, mengajak kita seperti menyusun puzzle namun entah kenapa bisa dirasakan dan di beberapa bagian terasa terhubung intim dengan telinga. Nada-nada album ini juga cenderung ceria tanpa porsi yang berlebihan seakan sedang merasakan riuh gempita di depan panggung. Jangan lupakan pula penyusunan daftar lagu yang ada di album ini begitu rapi dan matang. Bagiku secara pribadi, album “Godsigma” seperti remedi di tengah miasma. Terlebih lagi album ini membuat pendengar (terlebih bagi penyuka genre sejenis) terasa lebih dekat dengan panggung musik yang jumlahnya menurun drastis di tahun ini.

Leave a Reply