Salahku.

Tak sepantasnya memang mengharap balik rindumu.
Atau sekedar pesan yang berbalas untuk separagaf senyum yang menjadi teman tidurku.

Tak pantas pula aku menyatakan rinduku.
Karena senyummu pun belum tentu untukku.
Tidak pula rasamu yang menjadi tanyaku.

Salahku.
Menyimpan rinduku padamu.
Merasa rindu namun menetap bisu.
Lalu menikmati sakit yang menyenangkan pada setiap temu.

Salahku?
Yang terlalu takut dan terus meragu.
Merasa bahwa rindu ini hanya milikku.
Atau berandai bahwa kau hanya prioritas yang semu.

Salahku!
Yang sesukanya cemburu.
Lalu tetap berburu rindu-rindu yang baru.
Sementara entah kau menunggu atau tidak, aku masih menaruh harap padamu.

Pada akhirnya aku menyadari sesuatu.
Yang salah adalah aku.
Yang terlalu dalam menyimpan rindu.
Untuk kunikmati sendiri, di ujung penaku.

Leave a Reply