Sanubari

Jalan-jalan dipenuhi baliho dengan wajah angkuh dan gelar-gelar yang disemat di tiap nama: kebersamaan, masa depan, rumah tangga, anak, kebahagiaan; lengkap dengan visi-misi tiap tahun dan janji-janji pembangunan kota dan kita

Aku pulang menceritakan banyak padanya tentang mimpi-mimpi politis dan matrimoni kelak semegah metropolis

Di depan dadanya aku memegang surat suara, saat aku bertanya “Kau akan memilih siapa?”

“Kelaminku”, jawabnya

Ku cari hingga tiga kali, sungguh tidak ada dan tidak pernah ada tercetak foto berwajah angkuh serta sosok bernama ‘Kelamin’

Aku tahu betul, aku tidak bodoh dan tidak pula marah hanya karena dia menonton kisah peranjangan sambil sarapan stensil saban pagi

“Kau boleh pergi jika kau tidak memilih Kelamin sebagai pemimpin kehidupan kita, karena aku tahu kau akan mengeluh seperti pekerja kota yang menuntut upah layak. Kau akan pergi dariku jika si Kelamin tidak memimpin kita!” Lanjutnya

Aku enggan menjawab. Sungguh aku malam itu aku pergi mabuk, menghabiskan rahasia bersama yang tiada dan bersumpah tidak kembali padanya. Bukan karena ia benar dengan ragam ilusinya, tapi aku tidak tahu harus memaafkannya berapa kali lagi.

Leave a Reply