Satu Jam Setelah Aku Memekik Kematian

Deru mesin dan setapak pekerja merapal andai di setiap penggal namamu

Kau adalah warna murung kota yang aku benci; luka-luka dengan gemerlap paling warna-warni

Setiap mayatku dibawa selangkah dan selangkah lagi, jalan-jalan berjalan mundur memutar memori tentang Jakarta, gitar tua dan bianglala

Genang darah bergelayut pada kaki yang enggan pindah menuju selokan; sungguh aku ingin hidup sekali lagi namun mereka menolak untuk kembali

Satu jam setelah aku memekik kematian

Betapa kau benci perantau dan rasa haus mereka dengan kematian dan candu racun kotamu; tiada elegansi

Jabaranmu di tiap podium hanyalah titik untuk tanya lain yang enggan kau jawab, kau menolak memperbaiki dan membiarkan yang hancur menjadi sehancurnya

Mayatku yang tergeletak hanya kau pandangi -yang entah kau menangis atau tidak- sambil menelfon kekasihmu dari kota lain untuk menjemputmu dan berkeliling kota

Lalu kau menghilang menjadi gadis-gadis kota lain yang menunggu takdir di stasiun kereta api

Kau tidak akan kembali dan aku akan sublim menjadi dilupa

Satu jam setelah aku memekik kematian

Kau membangunkanku menjadi angan-angan untuk menghidupimu sebagai lamunan

Leave a Reply