Sebaris Lagu di Matamu

Apa jadinya ketika perayaan dihadiahi ruang sendiri?
Hari ini kau membungkusnya rapi
Memeluknya hati-hati namun tetap dibungkus dengan senyum marun favoritmu yang aku benci
Aku meniup awan di atas kue, berharap hanya kau tamu untuk hari ini dan itu cukup

Hitam matamu dasar cangkir
Pendar pijar, kunang kenang, dan kau -angka-angka menolak merombak huruf kali ini-
Ingin aku sekali lagi memergoki matamu dan mataku yang saling merayu di sudut sepi
Bukankah kembang api selalu mengganggu ciuman paling khidmat sejagat?

Kau mulai meracau menjelma surya
Menyairkan nebula kadang andromeda
Candra bersembunyi pada bumi, malam ini gerhana lagi, dan esok lagi.

Kau selalu mengajakku turut bernyanyi sembari menatapmu
Sebaris lirik lagu di matamu, “Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu,”
Telingaku selalu mendengar kata tidak yang mendengung-jauhkan antara aku dan cintamu

Malam ini aku menyanyikannya selirih lajur dinding yang mengepul angin
“Aku t i d a k mencintaimu, aku t i d a k mencintaimu, aku t i d a k mencintaimu,”
Emperan lilin satu demi satu mati, kau yang mabuk nostalgi berbisik
“Seharusnya begitu, seharusnya begitu, harus tetap begitu”

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply