Setetes Penghujan di Musim Kemarau

Tahun ini, sekali lagi penghujan datang lebih cepat. Berhulu pelupuk dan mengalir ke gunung lembah pipi berhilir di suatu tempat dimana kemarau menjadikannya mendidih. Entah dimana, mungkin di bibirmu yang mudah mengucap uap.

Penghujan kini hanya tersisa awan-awan hasil asap pabrik yang mengepul dan jatuh jadi cerita-cerita yang masam; hanya berisi residu potongan-potongan menunggu, merindu, dan berlalu.

Di lain tempat, sepotong daun menjadi peragu yang mendadak bisu. Dia tidak tahu harus menunggu pagi membawa embun atau merelakan penghujan melapukan dahannya sore ini.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply