Tarrzankota: Rentetan Diksi Sepanjang Preskripsi

Setelah ancang-ancang berjudul “Deidara” sudah lebih dahulu meluncur di kanal Youtube, EP debut dari Naufal alias Opay alias Tarrzankota pada akhirnya terbungkus rapi. Meski sebelumnya beredar artwork kotak obat yang aku duga akan menjadi cover dari EP ini. Setelah diumumkan rilisnya, cover EP ini berubah menjadi isinya: satu strip obat tablet yang isinya dua. Ada banyak maksud jika menduga-duga maksud cover ini, bisa jadi karena komposisi EP ini terdiri dari 6 lagu atau karena dua tablet ini adalah representasi Tarrzankota dan Yosh yang turut serta menggodok EP ini sebagai produser.

Sebelum membahas isi EP ini, aku ingin sedikit membahas sosok Tarrzankota ini sendiri. Salah satu dari komplotan “gila” bernama Northblock (yang isunya juga sedang menggarap album) pun sudah mengenal hasil karyanya untuk pertama kali jauh hari saat dia membentuk komplotan “gila” lain bernama Koalisi Para Babon. Entah karena terlalu banyak energi atau tumpukan ide di kepalanya, karya-karya yang rilis selalu menarik untuk di dengar. Seakan tidak ingin memberi jeda untuk badan sendiri, Tarrzankota lagi-lagi memuntahkan isi kepalanya namun kali ini atas namanya sendiri.

Sempat berbincang sedikit dengan Tarrzankota beberapa saat lalu, EP “Para-dog” ini terinspirasi dari mispronounce kata paradox yang menjelaskan pula mengapa artwork EP ini mengambil tema yang tidak jauh-jauh dari obat. Tarrzankota beranggapan bahwa penggunaan obat-obatan (khususnya psikotropika) yang dirasa paradoksal: di satu sisi obat-obat ini berguna untuk menyelamatkan diri namun di sisi lain juga perlahan merusak badan sendiri.

Diawali dengan “Intro” yang tentu saja sebagai pembuka. Beat repetitif dan rapalan yang berisi “perkenalan”. Setelah cukup lama dibuat menunggu, barulah masuk Tarrzankota mengisi beat ini. Patut diakui, sebagai santapan pembuka Tarrzankota tidak mengambil porsi berlebihan dan ditutup dengan manis. Sebenarnya “Intro” sangat menggambarkan nuansa jalanan malam yang cukup mencekam yang kemungkinan tema inilah yang akan mendominasi di EP ini. Namun sebagai tempat bermain yang lapang, Yosh sepertinya terjebak nyaman dan sungkan bereksplorasi pada 58 detik sebelum Tarrzankota masuk.

Dengan beat khas boombap, “Alpha Wolf” langsung dihantam rentetan rima dari Tarrzankota. Meski sederhana, hentakan-hentakan yang tepat, rima padat serta wordplay yang menghujam membuat track ini terasa nikmat. Patut diapresiasi pula Yosh mulai bermain dengan detil efek meski terkesan malu-malu.

Sebagai gacok yang dikeluarkan duluan untuk menyambut EP ini, sudah pasti track ini “berbahaya”. Masih dengan wordplay yang kejam sebagai khasnya, “Deidara” mulai dibawa cepat oleh Tarrzankota. Jangan lupakan pula detil-detil yang diberikan Yosh yang membuat beat sederhana ini memberi kejutan saat mendengarnya. Tidak heran kenapa lagu ini terpilih untuk muncul duluan ke khalayak.

Yosh mulai berani bermain lebih lasak. Porsi kick yang lebih berani dan instrumen yang membuat “Issues” jadi lebih kaya dan berwarna ketimbang track lain. Apresiasi untuk bagian “Hu… Hu… Hu…” yang nikmat. Dari isi, di track Tarrzankota juga lebih berani mengeksekusi lirik dalam bahasa Inggris. Lagu ini berhasil menjadi jembatan antara ekspektasiku yang sudah mendengarkan “Deidara” sebelumnya dengan EP ini yang sempat runtuh dengan beberapa track di awal.

Lagu utuh terakhir dari “Para-dog”, sebelum “Outro”. Ada kejutan menarik di “Sex Stare”, sosok Andjas yang ternyata ikut mengisi beberapa bagian. Entah karena keterlibatan Andjas atau tidak, suguhan musik di awal membuatku ingin meneriaki Yosh “Kok gak dari tadi???”. Nikmat, kaya dan detil-detil yang dimainkan Yosh seperti track-track sebelumnya. Aku tahu, Yosh masih bisa lebih lagi. Meski ada unsur romansa, track ini tidak berlebihan mengeksploitasinya yang biasanya membuat sebuah karya terasa eneg. Sepertinya aku sudah menemukan jagoan baru untuk EP ini. Ah, sanking enaknya aku sampai lupa untuk mengapresiasi bagaimana peletakan Anjas di belakang berhasil menutup lagu ini dengan mewah!

Setelah puas, tentu saja dengan “Outro” pendengar akan dibius lemas. Berbeda sekali dengan “Intro” di awal, di sini Yosh diberikan tempat sendiri selama hampir dua menit dan terdengar lebih lepas mengeluarkan segala sisa-sisa di kepalanya. Akhir yang menakjubkan dan terasa seperti sebuah proses.

Patut diakui, pada awalnya beberapa lagu membuat ekspektasi yang sudah terbangun oleh “Derita Baik“, “Distrik Kavaleri Bandit” dan “Deidara” yang muncul lebih dulu membuat ekspektasiku yang kadung tinggi runtuh. Namun seiring bergantinya track, EP ini terasa tumbuh. Ah, mungkin ini efek EP yang disusun secara tepat dan tidak berlebihan. EP ini juga terasa punya pengaruh dari idola-idola Tarrzankota seperti Ramirez, Suicideboys, Joey Bada$$, Playboi Carti dan Jere Fundamental.

Kesimpulannya, “Para-dog” sudah sangat layak sebagai pembuktian diri seorang Tarrzankota meski aku tahu kedepannya akan banyak sekali karya-karya yang lebih berbahaya baik dari Tarrzankota dan komplotannya. Word-play yang kaya dan sedikit liar dari Tarrzankota jadi kekuatan paling besar dalam EP ini. Tidak heran jika dalam EP ini banyak rentetan kata yang agak asing namun ciamik macam preskripsi yang turut serta dalam setiap pembelian obat, persis EP ini.

Begitupun, sedikit kekurangan dari EP ini justru sang produser, Yosh yang rasanya masih malu-malu untuk bereksplorasi dan bereksperimen lebih liar lagi. “Issues” dan “Outro” aku rasa jadi bukti kalau Yosh sebenarnya lihai dalam mengulik musik namun sedikit malu-malu di EP ini. Secara pribadi, sebagai bass-head pun kadar kick dan tentunya bass dirasa masih agak kurang. Tapi tidak apalah, yang satu itu benar-benar preferensi pribadi. Good job, Tarrzankota dan Yosh!

2 Comments

  1. Senang sekali eksplorasi tulisan tentang musik di blog ini. Saya juga music enthusiast, namun lebih senang yang pop culture.

    Baca-baca di sini jadi nambah wawasan dan referensi serta perjalanan spirit musik itu sendiri

    Salam kenal

    • Terima kasih untuk apresiasinya mas. Iya, saat ini saya masih fokus ke teman-teman kolektif dan musisi independen dulu. Mungkin kalau sudah agak rajin saya bakal sabet juga yang populer. Semoga.

      Salam kenal juga mas.

Leave a Reply