The Joy of Missing Out

Hiatus

Lagi dan lagi. Memutuskan untuk beristirahat dari Twitter (atau mungkin segala media sosial). I’m tired.

Bisa dibilang Twitter merupakan media sosial paling favorit sejak pertama kali menemukannya. It’s simple, doesn’t need much data, nice ecosystem (people said that your timeline represented by what your following are), good jokes (also the drama), and in Indonesia sometimes it’s more like the mini version of Reddit. Well, it’s not anymore.

Bisa dibilang tempat ini menjadi tempat pelarian nomor satu buatku ketika orang-orang silih berganti media sosial sesuai tren. Tidak menampik aku juga mencoba beberapa di antaranya, namun rasa-rasanya masih nyaman bermain di Twitter bertahun-tahun. Beberapa dipertahankan hanya karena memang butuh untuk menjadlin segmen untuk berkomunikasi dengan orang lain yang nyaman di platform tadi. Salah satu yang berhasil menarik perhatianku agak lama yaitu Line, itupun terkadang masih membuka twitter walau porsinya berkurang. Setelah deretan insiden Line Today, bocah kickers dan “OAppocalype” tentu saja, beberapa OA (official account) pada saat itu mempelopori pindah haluan ke Twitter. Tentu saja hal ini seperti bola salju yang menarik pengguna lama dan tentu saja pengguna baru meramaikan kembali Twitter. Sangat menyenangkan sebenarnya, namun semakin lama rasanya menjenuhkan. Entah karena sudah terlalu lama bertahan atau jungkir balik yang tiba-tiba sekali Twitter belakangan bukan tempat yang nyaman lagi, menurutku. Alasan ini juga menambah poin kenapa aku akhirnya memutuskan untuk kembali ngeblog sebagai tempat pelarian yang sepi.

Beberapa malam lalu, aku memutuskan untuk “berpuasa” media sosial dulu untuk sementara. Entah sampai kapan.

Namaste

Mungkin kata mokhsa dan amorfati sudah kehilangan daya kerennya di kalangan pencari arkais. Aku sendiri berharap menggunakan sub-judul ini dengan tepat. Agak lucu sebenarnya dengan orang-orang yang menggunakan kata ini untuk mengacu pada kata calm, chill, peaceful atau beragam kata sifat lain. Well, it’s not. Namaste yang sering digunakan sebagai salam yang sebenarnya memiliki arti semacam “aku membungkuk (menghormati) Anda”.

I bow to everyone. Yup, beragam sosok jagoan, anonim mahacerdas, lingkaran dengan kuasa dan beragam hal ajaib lain di lini masa. Rasa-rasanya segalanya menjadi kacau. Semua orang berlaku seakan pakar ini dan itu. Raja-raja besar dengan tameng hukum. Raja-raja kecil dengan tameng massa. Fanatis yang bahkan terlalu gelap matanya. Bahkan belakangan merasakan langsung bagaimana istilah “dirujak online” ada dan bekerja. I bow for them too (LOL, they don’t even dare to provoke me irl). Sisanya, sebut saja hal-hal lain yang membuat Twitter menjadi lebih menakutkan dari sebelumnya, untuk sekedar mengumpat atau memuntahkan racauan sembarang. Budaya spill-spill-an ini betul-betul tidak sehat.

Oh, aku lupa membahas fitur lini masa “populer” yang baru, dan sialnya diatur secara default oleh Twitter. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang ingin ikut campur dengan urusan orang lain yang saling reply atau iseng untuk menekan tombol like (RIP favourite button). Jangan lupakan pula fitur quote retweet yang memfasilitasi beragam kontra argumen maha dahsyat untuk disajikan ke seluruh followers (walau banyak membantu menggantikan cara retweet yang lama). Meskipun tetap lahir guyonan dan tulisan-tulisan cerdas untuk dinikmati, namun resiko menjadi terkenal dengan cara-cara tidak sehat bisa saja berdampak dan menjadi akibat yang buruk kelak. Ketakutan-ketakutan ini menjadikanku ingin istirahat sejenak dari media sosial (terutama Twitter) sementara. Aku hanya ingin menulis dengan damai.

Robota

“Kamu harus memiliki niche”, “Unggah tiap hari jangan bolong”, “Ketahui target pasar”, “Buat artikel SEO-friendly dong”!

Seriously, F* that! Meskipun bisa dan dalam pekerjaanku sehari-hari menerapkannya, namun di blog ini rasa-rasanya ingin sekali segalanya mengalir dan pertemuan-pertemuan tanpa sengaja terjadi. Seperti blog dan blogger dulu.

Aku begitu kaget saat memutuskan kembali ngeblog dan meriset beberapa blogger lain. Perasaan campur aduk pun terjadi. Kebanyakan yang aku kenal hilang tergilas zaman, beberapa yang bertahan juga sudah jarang menulis, beberapa menjadi pakar (macam-macam, pokoknya pakar) dan sebagian kecil berevolusi menjadi buzzer. Nasib blog mungkin sudah begitu sepatutnya. Toh orang-orang lebih menikmati portal berita daring untuk hal-hal yang pasti dan media sosial untuk hal-hal yang sifatnya hiburan. Memangnya siapa yang masih ingin membaca cerita dan keluh kesah yang manusiawi di sela-sela waktunya? Hampir tidak ada.

Tidak heran, konten hasil duplikasi dan modifikasi bertebaran di ranah maya. Orang-orang yang dipanggil sebagai “influencer” ini mereplika dirinya sebagai brand dengan dalih personal branding. Tidak heran ketika sang influencer keluar jalur dari sosok brand dan berlaku seperti manusia yang semestinya, akan ada beberapa penggemar yang berfungsi sebagai wasit di kehidupan orang lain. Tidak jarang, beberapa dari influencer ini kemudian membuat semacam “second account” yang hanya berisi teman-teman terdekat untuk bisa menjadi manusia sebenarnya. Beberapa yang lain mungkin menyimpannya secara baik di luar internet. Entahlah, aku tidak tahu persis. Aku belum pernah populer. Aku belum pernah menjadi robot untuk diri sendiri.

Joy of Missing Out

Pada akhirnya, tulisan ini sampai pada konklusi bahwa media sosial mulai mencongkel kewarasanku perlahan. Membandingkan diri pada orang lain, ratapan tidak sehat, ejekan yang insensitif, ketakutan dari hal-hal yang belum terjadi dan sebagainya. “Offense is taken, not given”. So all of these are to save my own self. I start to think that some jokes are given to me when it’s not. Segala tekanan sosial dan dan perasaan kesepian yang semakin tidak wajar ini mulai terasa tidak sehat. Perasaan-perasaan semu yang mulai longgar dan janggal mungkin juga harus direnggangkan, beberapa mungkin tidak sespesial itu.

Kepuasan yang semu dari beragam bentuk atensi, memaksakan diri untuk bertahan pada orang-orang yang salah, hal-hal yang datang lalu pergi begitu cepat dan target angka-angka yang menuntut seperti pacuan. Segalanya sungguh memuakkan.

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply