Untitled #47

Surat-surat ini tidak sepenuhnya milikmu, Puan

Beberapa hilang saat kau mengutuki realita lalu membanting sebuah pasar ke kepalaku hingga aku lupa siapa sebenarnya kau, tuba atau ambrosia?

Beberapa yang lain sudah ku bakar bersama seisi kota lengkap dengan diriku yang lain, ku sulut tepat di bibirmu saat kau meneriaki klise-klise hidupmu yang hancur kau burai sendiri

Namun bebal perasaanku yang meruah tetap membuatku merindukanmu bagaikan pekerja pada tanggal merah

Di hidupku kau yang lima-dua dari yang tiga-enam-lima, sisanya hanyalah kata dan tanda yang acak

Sesaat kita usai berpesta dan mabuk segelas amora, aku menulisimu untuk sehari dan sehari lagi

Surat-surat dan puisi ini -yang tentu enggan kau balasi hingga aku meribang sampai mati- akan menjadi bukti bahwa aku sudah tidak punya harga diri

Sungguh dalam pengasinganku dari jantungku sendiri, kau tetap akan aku tulisi entah jadi yang menghidupkan entah yang mematikan; sebagaimana kau biasanya

Leave a Reply