Vintage Glasses: Lepas Rindu dengan “Invasi Batas Utara”

Ada dua hal yang paling aku rindukan di tahun 2021 ini: offline gigs (yang dinikmati terakhir kali di Local Wisdoom Juni lalu, sembari kucing-kucingan) dan album/EP dengan materi yang sedikit cadas. Ah, rasanya cukup canggung untuk mencetak tebal kata offline di kalimat sebelumnya, betapa kita sudah terbiasa untuk menikmati segala sesuatu secara online belakangan ini. Kembali  ke persoalan kedua, jujur saja buatku tahun ini tidak begitu banyak rilisan yang berkesan khususnya untuk skena Medan. Entahlah, rasa-rasanya tahun ini ada begitu banyak rilisan yang kalau tidak dream pop, ya lagu dengan vokal/instrumen elektronik yang mengawang-awang. Syukurnya, Vintage Glasses (yang lebih sering disingkat Vigess) yang sudah lama tidak terdengar gaungnya kini kembali dengan “Invasi Batas Utara”, setelah sebelumnya “Easy Ride” yang juga berada di album ini muncul dalam “Kompilasi Satu Dekade Medan Blues Society”.

Satu hal yang paling menarik dan berkesan dari “Invasi Batas Utara” adalah proses publikasinya yang terasa sangat matang. Mulai dari pra-rilis, publikasi saat rilis hingga acara peluncuran yang dibarengi dengan acara “nobar” secara premier mini dokumenter dari Vintage Glasses yang sayang sekali tidak bisa dihadiri. Tentu saja hal ini terkesan sangat “niat” karena ya bisa dihitung jari musisi di Medan yang menyiapkan publikasi dengan matang seperti ini.

Jalan Berapi dan Invasi

Kembali lagi menyoal “Invasi Batas Utara”, album ini bisa dibilang sudah nikmat sejak awal.  Sebagai bagian dari komunitas motor kustom TWBW (The Wild Brain Workshop), Vintage Glasses berhasil membawa suasana touring dengan motor kustom lewat “Motorpsycle” yang berkolaborasi dengan Giffarie Ownie.

Setelah dibuka dengan manis, “Lantam” (dan lagu-lagu berikutnya) berhasil membayar rindu dengan musik rock khas Vintage Glasses yang memutar kembali waktu ke beberapa tahun silam dengan debut EP mereka, “Rock Teenagers Rebellion“.

Ada sedikit catatan untuk “Wild Brain” dan “Vigess Teenagers Terror”, aku sempat terkecoh dengan isu teknis dari alat yang ku gunakan untuk mendengarkan album ini. Awal mendengar album ini aku menggunakan IEM yang menyebabkan efek suara backing vocal yang jadi lebih maju ketimbang vokal utama. Ternyata setelah menggantinya dengan IEM lain, masalah ini teratasi dan tentu saja membuat album ini terasa lebih baik lagi.

Masuk ke “Invasi Batas Utara”, tidak heran kalau lagu yang satu ini menjadi gacok dan menjadi judul utama dari album ini. Tidak hanya sekadar lagu yang nikmat, namun entah kenapa atmosfir dari sebuah gigs dengan segala riuh dan baranya muncul saat mendengarkan lagu ini. Sungguh tidak sabar untuk melihat Vigess membawakan lagu ini secara live nantinya.

Setelah melewati puncak hingar-bingar maka album ini mulai melandai. Begitulah sekilas gambaran untuk album ini mulai dari “Reckless” hingga “Menuju Gelap Malam” di akhir album ini. Begitupun, bukan berarti album ini kehilangan pesona setelahnya. Masih ada kejutan tipis-tipis di setiap track hingga album ini berakhir. Mulai dari “Into The Fire“, “Easy Ride” dan “Jeritan” yang tidak bisa dibilang sebagai basian. Bisa dibilang kelima lagu ini bisa dinikmati sebagai teman perjalanan yang lebih santai ketimbang lima track di awal yang lebih “berapi”.

Sesuai judulnya, “Menuju Gelap Malam” berhasil menutup perjalanan dari album ini dengan manis. Bisa dibilang, lagu ini semacam pengiring yang cocok sekali untuk closing credit film-film aksi atau sebuah dokumenter perjalanan. Manis sekali.

Hentak yang Semestinya

Jika dibandingkan dengan debut EP mereka yang berjudul “Rock Teenagers Rebellion“, tentu saja ada banyak sekali perkembangan baik secara teknis dan materi, namun tidak menghilangkan rasa khas dari Vigess itu sendiri. Untukku, album ini bisa dibilang jadi rilisan terbaik di skena musik Medan untuk semester kedua di tahun 2021 yang masih sepi saja.

Kejutan yang sekali lagi datang dari di album ini adalah track dalam album ini tersusun dengan rapi. Hal yang bisa dibilang mulai jadi hal yang jarang saat ini, entah karena mudahnya membuat playlist kini atau mulai banyaknya orang yang “enjoy with shuffle”. Satu yang menjadi catatan khusus beserta album ini adalah bagaimana proses setelah produksi alias publikasi album ini berjalan. Mulai dari press release yang muncul di beragam media, event, merchandise hingga komunitas. Beginilah sebaiknya publikasi dari produk musik berjalan. Tidak sekadar produksi, story (yang jangkauannya hanya kawan ke kawan) lalu diam dan kemudian mengutuk pasar musik medan yang “begitu-begitu saja” (walau ada benarnya juga sih). Ada banyak hal yang bisa diulik mengenai publikasi ini sendiri, mungkin akan dilanjutkan di tulisan terpisah.

Singkatnya, Vintage Glasses berhasil menghadirkan album ini beserta seluruh materinya dengan mantap sekaligus menjadi titik cerah bagaimana produksi sebuah album musik seharusnya. God bless your ride, Vigess!

Bagikan ke teman >>

Leave a Reply